Apakah TPQ Gratis Itu Kurang Bermutu? Jawaban Pak Ustadz Ini Membuat Ruangan Mendadak Hening
![]() |
| Dokumentasi Anak TPQ |
Biliksantri.com - Malam itu selepas istighotsah, seorang wali santri mengangkat tangan dan bertanya kepada Pak Ustadz. Pertanyaan yang sederhana, tetapi cukup sensitif. Bahkan setelah mendengar jawabannya, beberapa orang langsung menundukkan kepala.
"Pak Ustadz, saya mau bertanya"
"Silakan, Pak"
"Apakah TPQ yang gratis itu kurang bermutu dibanding TPQ yang ada SPP atau syahriyahnya?"
Suasana mendadak hening.
Beberapa wali santri ikut menoleh.
Karena pertanyaan itu memang sering muncul di tengah masyarakat.
Ada yang beranggapan kalau bayar mahal pasti lebih bagus.
Ada yang menganggap yang gratis pasti seadanya.
Pak Ustadz tersenyum pelan.
Lalu menjawab,
"Menurut saya, tidak bisa begitu, Pak."
"Maksudnya?"
Pak Ustadz mengambil segelas air minum terlebih dahulu.
Kemudian berkata,
"Mutu TPQ tidak ditentukan oleh gratis atau tidak gratis."
"Tapi ditentukan oleh guru, pengelolaan, metode, lingkungan, dan kesungguhan mendidik santri."
Semua mulai mendengarkan dengan serius.
Pak Ustadz melanjutkan,
"Ada TPQ yang gratis, tetapi guru-gurunya luar biasa ikhlas, disiplin, dan sabar."
"Ada juga TPQ yang berbayar, lalu memiliki program yang bagus karena biaya operasionalnya tercukupi."
"Keduanya bisa sama-sama baik."
Salah satu wali santri bertanya lagi,
"Jadi tidak ada hubungannya dengan biaya?"
Pak Ustadz tersenyum.
"Ada hubungannya, tetapi bukan penentu utama."
Ruangan semakin hening.
Lalu Pak Ustadz mengucapkan kalimat yang membuat banyak orang terdiam.
"Kalau mutu pendidikan hanya ditentukan oleh uang, maka anak-anak yatim dan anak-anak miskin tidak akan pernah punya kesempatan mendapatkan pendidikan terbaik."
Beberapa orang langsung menundukkan kepala.
Pak Ustadz melanjutkan.
"Dalam sejarah Islam, banyak ulama besar lahir dari keluarga sederhana."
"Bahkan ada yang belajar di surau-surau kecil tanpa biaya."
"Yang membuat mereka besar bukan mahalnya biaya."
"Tetapi keberkahan ilmu dan kesungguhan belajar."
Suasana terasa semakin dalam.
Kemudian Pak Ustadz berkata lagi,
"Namun kita juga harus jujur."
"TPQ gratis bukan berarti tidak membutuhkan biaya."
"Listrik tetap bayar."
"Air tetap bayar."
"Buku tetap beli."
"Bangunan tetap dirawat."
"Guru juga punya keluarga yang harus dinafkahi."
Beberapa pengurus TPQ mengangguk pelan.
Karena mereka merasakan kenyataan itu setiap hari.
Lalu Pak Ustadz menutup jawabannya dengan kalimat yang membuat dadanya sendiri terasa sesak.
"Kadang masyarakat memuji TPQ yang gratis karena dianggap ikhlas."
"Tetapi jarang yang bertanya apakah guru-gurunya sudah makan atau belum."
Ruangan langsung sunyi.
Tidak ada yang menyela.
Tidak ada yang bercanda.
Karena kalimat itu terasa begitu nyata.
Pak Ustadz lalu tersenyum dan berkata,
"Jadi jangan ukur mutu TPQ dari ada atau tidak adanya syahriyah."
"Ukurlah dari bagaimana anak-anak belajar, bagaimana akhlaknya tumbuh, bagaimana bacaan Al-Qur'annya berkembang, dan bagaimana para gurunya mendidik dengan penuh tanggung jawab."
Malam itu para wali santri pulang dengan pemahaman baru.
Bahwa...
TPQ gratis belum tentu kurang bermutu.
TPQ berbayar juga belum tentu lebih baik.
Karena harga sebuah pendidikan tidak selalu bisa dihitung dengan uang.
Dan sering kali...
Di balik sebuah TPQ yang gratis, ada guru-guru yang diam-diam sedang membayar kekurangannya dengan tenaga, waktu, bahkan kebutuhan hidup mereka sendiri.
Bagaimana menurut sahabat, apa yang paling menentukan kualitas sebuah TPQ: biaya, guru, metode, atau dukungan orang tua?....
Penulis : Jubed Mjr


Posting Komentar untuk "Apakah TPQ Gratis Itu Kurang Bermutu? Jawaban Pak Ustadz Ini Membuat Ruangan Mendadak Hening"