• Jelajahi

    Copyright © Bilik Santri
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Gus Dur Idealkan Manajemen Gerakan NU Seperti Partai Katolik Jerman

    Senin, 27 Januari 2020, 7:47:00 PM WIB Last Updated 2020-01-27T12:47:23Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    bedah-buku-menjerat-gus-dur-kudus
    Suasana Bedah Buku "Menjerat Gus Dur" dan beberapa narasumber sedang mengemukakan pendapatnya tentang Gus Dur, (Foto: Salim)

    Kudus, biliksantri.com - Semasa hidup, KH. Abdurahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI Ke-4 ingin mengidealkan manajemen gerakan NU seperti Partai Katolik di Jerman. Dimana, NU dapat mengkoordinir sayap intelektual politik negara.

    Hal itu disampaikan oleh Saiful Arif, salah seorang santri Gus Dur saat menjadi pembicara acara Bedah Buku "Menjerat Gus Dur" dan Haul Gus Dur ke-10 pada Minggu (26/1/2020). Acara yang diselerenggarakan oleh Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kudus ini bertempat di Aula Ponpes Yanbu'ul Qur'an, Kajeksan Kota Kudus. Hadir dalam acara itu yakni beberapa Banom NU, tamu undangan dan Plt. Bupati Kudus.

    Menurut Arif, NU didirikan bukan hanya menjadi kebangkitan bangsa, tetapi kebangkitan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Artinya wilayah NU bukan di level kenegaraan atau politik tertentu. Melainkan lebih kepada level bangsa dan kebudayaan.

    "Karena Negara dan cara politik hanya sebagai wasilah (perantara)," katanya.

    Soal buku, Arif hanya menunjukkan bahwa buku Menjerat Gusdur sebagai bukti persekongkolan elit politik untuk menjatuhkan Gus Dur. Karena Gus Dur sangat idealis dalam segala tindakan.

    "Saya kira, lengsernya Gus Dur karena takut NU menjadi 'besar'," ungkap santri yang selama mondok pernah menjadi tukang sapu itu.

    Sementara itu, intelektual muda NU, Zuhairi Misrowi, mengatakan bahwa dedikasi Gus Dur untuk NU tak perlu diragukan lagi. Kedermawanan beliau kepada sesama menjadi inspirasi banyak orang. Pintu Gus Dur selalu terbuka untuk pemuda NU. Jadi wali itu sederhana, perbanyak memberi daripada meminta.

    "Hidup Gus Dur itu memberi, mengasihi sesama," kata Alumni Al Azhar Mesir itu.

    Kalau ingin meneladani Gus Dur, lanjut Zuhairi, harus menjadi manusia. Berani membela kebenaran dan orang-orang lemah. Perjuangkan prinsip dan nilai dengan terencana. Karena kebenaran yang tak terorganisir, maka akan kalah dengan kebatilan yang terorganisir.

    "Maka, generasi muda NU, perlu mengkaji ulang mengenai pemikiran Gus Dur," tandasnya.

    Penulis: Lim.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini lainya