Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Belajar, Belajar dan Belajar

 
kiai-sahal-mahfud
Dr. KH. Mohammad Ahmad Sahal Mahfudh (foto : medium.com)
biliksantri.com - KH. MA Sahal Mahfudz, Kejen Pati Jawa Tengah, dengan ketinggian ilmu dan rendah hatinya, seringkali dianggap memiliki ilmu laduni. Yaitu sebuah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT secara otodidak, cepat dan praktis dapat mendalami cabang keilmuan tertentu. Menanggapi hal itu, Kiai Sahal dengan kesederhanaannya menepis dengan ungkapan "Aku nggak punya ilmu laduni. Aku bisa begini ya karena belajar, belajar dan terus belajar dengan keras."

Di sudut lain, ada Christian "El Loco" Gonzales, pemain sepakbola Indonesia. Meski pemain veteran (umurnya lebih 40 tahun) dapat sederet prestasi di masa karir mudanya. Ia tetap konsisten bermain dan stabilitas staminanya yang masih kuat. Pada pemain lain, Gianlugi Buffon, kiper legendaris Juventus, mendisiplinkan diri dengan berlatih lebih berat dibanding pemain lain. Dari ketiganya, kita bisa mengambil pelajaran, bahwa mereka tidak lelah belajar.

Belajar selalu berhubungan dengan tekad, kemauan, harapan dan selalu menghadapi tantangan dengan berani. Belajar bisa dimana saja, kapan saja dan usia berapa saja. Bahkan, Islam menganjurkan belajar dari sejak kecil sampai meninggal dunia. Umur bukan jadi penghalang.

Soal penaklukan usia, Imam Abu Bakar Al-Qaffal bisa jadi teladan. Ia merupakan madzhab Syafi'i yang baru belajar agama di usia 30 tahun. Sebelumnya, ia lama menghabiskan waktu membuat gembok. Profesi yang dilekatkan pada namanya hingga wafat, Al-Qaffal alias pengrajin gembok. Agak telat memang, namun kegigihan mengejar ketertinggalannya menjadi ulama terkemuka di zamannya.

Keterbatasan daya ingat, benarkah ada? Para ulama telah memberi contoh bahwa apabila kegeniusan itu memang ada, maka memaksimalkan daya ingat dan kekuatan pikiran pastilah juga ada. Diriwayatkan, Imam Hasan An-Naisaburi mengulang-ulang hafalannya hingga 50 kali, Imam Ilkiya Al-Harrosi mengulang pelajarannya sebanyak 70 kali. Mereka mendayagunakan akal pikiran untuk menjelajahi spektrum keilmuan dengan cara mengulang-ulang hafalannya hingga melekat. Hal itu pula yang selalu diterapkan di Pondok Pesantren oleh Kiai kepada santrinya. Metode itu pun ditiru oleh pendidikan madrasah.

Jadi, tak ada ilmu yang langsung dipahami tanpa proses belajar dan kerja keras serta waktu yang panjang.

Penulis Muhammad Nur Salim, dikutip dari Kiai Kantong Bolong

Posting Komentar untuk "Belajar, Belajar dan Belajar "

Berlangganan via Email