• Jelajahi

    Copyright © Bilik Santri
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Tiga Ciri Organisasi dan Karakter NU Menurut KH. Ma'ruf Amin

    Minggu, 02 Februari 2020, 8:30:00 PM WIB Last Updated 2020-02-02T13:37:31Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    harlah-nu-94-koin-muktamar-kiai-maruf-amin
    Dari kiri: Sekjend PBNU (Helmi Faisal Zaini), Ketum PBNU (KH. Said Aqil Siroj), Wakil Presiden RI (KH. Ma'ruf Amin beserta isteri). Foto: Replubika.co.id

    Jakarta, biliksantri.com - Wakil Presiden RI, KH. Ma'ruf Amin hadiri peluncuran Koin Muktamar NU dalam rangka peringatan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-94 di Gedung PBNU, Jakarta pada Jumat (31/1/2020) kemarin.

    Kiai Ma'ruf Amin yang juga Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengisi tausiyah kebangsaan yang dihadiri oleh jajaran PBNU, Banom NU dan sejumlah tamu dari berbagai daerah.

    Dalam tausiyahnya, Kiai Ma'ruf memberikan tiga ciri organisasi yang berkembang di Indonesia. Pertama, ada banyak organisasi, tetapi umurnya tak panjang. Sering dilanda konflik yang berterusan. Kedua, ada organisasi yang umurnya lama, tetapi tak berkembang, tidak bisa 'besar' alias mengalami stagnasi.

    "Terkena stanting, jadinya kerdil terus," katanya.

    Ketiga, yakni organisasi yang besar dan lama berdiri, tetap utuh sampai sekarang. Bahkan berkembang di tengah kemajuan masyarakat yang sifatnya berubah. Menurut Kiai Ma'ruf, NU harus bersyukur karena termasuk ciri organisasi yang ketiga. Hal ini tak terlepas dari karakteristik NU yang terus dipertahankan sampai detik ini.

    NU memiliki karakter yang moderat, dinamis dan bermanhaj. Moderat artinya dalam memahami agama, tak hanya tekstual dan tidak liberal. Dinamis berarti NU sering mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak konservatif. Bermanhaj artinya NU dalam bergerak selalu dikembangkan dengan metodologi yang telah dicetuskan oleh ulama dahulu.

    "Sekarang banyak orang beragama yang hanya mengandalkan teks-teks saja. Sehingga umat tersesat dalam beragama dan kebodohan," tuturnya.

    Cara berpikir NU, lanjut Kiai Ma'ruf, adalah rasional, dinamis tetapi ada frame nya. Sehingga NU diharapkan mampu mengambil peran besar dalam menghalau pikiran radikalis dan cara penafsiran yang menyimpang di zaman ini.

    "Saya yakin, NU tak hanya dibutuhkan di Indonesia, tetapi saya harapkan bisa membantu konflik secara internasional," pungkasnya. (Lim/Ifa)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini lainya