• Jelajahi

    Copyright © Bilik Santri
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Ketika Syekh Abdul Qodir Al Jilani Diberi Hadiah Sang Raja

    Selasa, 10 Maret 2020, 11:15:00 PM WIB Last Updated 2020-03-11T23:44:11Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


    biliksantri.com - Kita mengenal Wali Kutub yang terkenal yakni Syekh Abdul Qodir Al Jilani, lahir di Dusun Jilan, kota terpencil di luar Kota Tobaristan pada tanggal 1 Ramadhan 471 H.

    Beliau merupakan cucu dari Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Karena karomahnya, banyak yang mengenal Syekh Abdul Qodir Al Jilani sebagai sosok wali yang termasyhur di zamannya. Bahkan, sebagian umat Islam Indonesia sering membaca cerita-cerita tentang Kanjeng Syekh (sebutan Syekh Abdul Qodir Al Jilani) dan berwasilah saat seseorang mempunyai hajat. Budaya manaqib an Kanjeng Syekh digelar guna terkabulnya hajat seseorang tersebut.

    Kanjeng Syekh seringkali menampakkan keramatnya dihadapan para pemimpin negara (raja) atau ulama yang setingkat level dibawahnya. Khusus berhadapan dengan raja, Kanjeng Syekh selalu memberi peringatan agar tak sembarangan dalam menjadi pemimpin rakyat.

    Syekh Abdullah Al-Mushaliy pernah bercerita bahwa ada seorang Raja yang adil terkenal dengan sebutan almustanjid billahi yaitu Abul Mudhoffar Yusuf. Raja itu datang menghadap Kanjeng Syekh dan memohon untuk dinasihati. Sambil membawa hadiah berupa sepuluh kantong uang yang dibawa oleh sepuluh orang pembantunya. Namun, Kanjeng Syekh menolaknya.

    Mendengar hal itu, Raja Abul Mudhoffar Yusuf pun merasa kecewa dan mencemooh dan memaksa Kanjeng Syekh sudi menerimanya. Maka, Kanjeng Syekh mengambil dua kantong uang tadi dan dengan izin Allah kantong itu mengalirkan darah. Kemudian Kanjeng Syekh berkata kepada sang Raja:

    " Apakah raja tidak malu kepada Allah SWT dengan memeras darahnya rakyat yang kemudian Raja menyerahkannya kepada saya dengan memaksa?.

    Seketika itu, sang Raja menjadi pingsan dan Kanjeng Syekh berkata lagi:

    " Demi dzat yang Maha Agung dan berhak disembah, seandainya saya tidak menghormati nasabnya yang bersambung dengan Rasulullah SAW, pasti saya biarkan darah itu terus mengalir sampai di rumahnya".


    Di lain hari, Raja Abul Mudhoffar juga pernah berada di depan Kanjeng Syekh dan mengatakan:

    " Saya ingin melihat sesuatu dari kekaromahan untuk menenangkan hati saya".

    Kanjeng Syekh bertanya " Apa yang engkau kehendaki?". Sang Raja menjawab " Saya menginginkan buah apel dari alam ghaib".

    Padahal, di Irak pada waktu itu tidak ada musim apel. Maka Kanjeng Syekh mengulurkan tangannya ke udara, tiba-tiba ada dua apel di tangannya. Kemudian Kanjeng Syekh memberikan apel yang satu untuk sang Raja dan satunya lagi masih dipegang olehnya.

    Lalu, Kanjeng Syekh memecah apel yang dipegangnya dan seketika apel itu warnanya putih bersih dan harum baunya bagaikan kasturi.

    Sedangkan apel yang dibawa Raja dipeluknya erat dan tiba-tiba apel itu penuh dengan ulat. Raja pun heran dan bertanya " Mengapa apel saya begini, sedangkan punya Kanjeng Syekh baik sekali?".


    " Wahai Abal Mudhoffar, apel ini ditangan orang lalim, maka akan mengeluarkan ulat sebagaimana kau lihat. Sedangkan apel yang satu berada ditangan kekasih Allah, maka menjadi harum baunya dan nikmat"

    Penulis adalah Muhammad Nur Salim, Pemimpin Redaksi Biliksantri.com LPP IPNU-IPPNU Mayong dan pegiat di Paradigma Institue
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini lainya