• Jelajahi

    Copyright © Bilik Santri
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Puisi - Puisi Fahrizal Aminuddin ; Dunia Tua Renta

    Rabu, 15 April 2020, 12:12:00 AM WIB Last Updated 2020-04-14T17:12:32Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Suara.com

    DUNIA TUA RENTA


    Dunia tak pernah semarah ini
    Tsunami meratakan Negeri
    Asap pekat perlahan menghabisi populasi
    Virus menjangkit, merampas jutaan nyawa tak henti henti

    Bumi telah lelah
    Atau kita yang tak pernah sadar akan salah?
    Hamparan sawah menjadi jajaran gedung-gedung mewah

    Dingin lumpur tepian kali diganti jadi marmer setebal tiga mili
    Pohon-pohon rindang habis jadi tumpukan sampah digudang

    Oksigen semakin tipis
    Nafas kehidupan pun kian kembang kempis
    sekat antara hidup dan mati sekarang hanya setebal epidermis

    Kita benar-benar sudah berada diujung masa
    Dimana bumi tak lagi mau merotasi,
    Maka bersiaplah menuju kehidupan abadi.

    Ri. 2020

    REMISI PANDEMI


    Ditengah pandemi yang kian merajai
    Terselip sedikit bahagia dari balik jeruji besi
    Dari mereka yang mendapat remisi
    Menghirup udara segar sebelum masa hukuman selesai

    Memang benar satu masalah teratasi
    Tapi bukankah akan lebih banyak lagi masalah-masalah dikemudian hari?

    lihat saja!

    Belum genap sebulan implementasi dari sebuah wacana
    Kelompok-kelompok anarki sudah berencana menjarah seisi pulau jawa
    Seperti biasa, mereka hanyalah pion yang digerakkan para raja
    Dan raja-raja itu tidak akan dibuka identitasnya hingga akhir masa.

    Negeriku, Indonesia
    Tubuhmu dikuasai oleh orang kaya yang berkuasa
    Tidak takut sengsara karena pada permainan ini mereka adalah bosnya.

    Ri.2020

    NEGERI-NEGERI POLITISI


    Kini, rakyat menagih janji
    yang pernah kau selipkan diantara amplop berisi
    Orasi demi orasi kewarasan menggema dari mulut masa yang berjumlah sepersekian ribu
    Sudut-sudut kota mendadak ramai, mereka menberontak layaknya bayi yang meminta susu terhadap sang ibu.

    Pertiwi, wajahmu tak lagi suci
    Kebebasan bersuara benar-benar telah dikebiri
    Mereka yang jujur dihakimi
    Sementara yang salah malah dibela sampai mati
    Para wakil tak peduli
    Dengan teriakan dari bawah
    Sebab mereka hanya dianggap anak tiri, asal masih bisa korupsi, dianggapnya negara ini aman terkendali.

    Demokrasi tak lagi bisa disebut demokrasi
    Kebebasan yang penuh keterbatasan
    Nasib rakyat di lotre pada permainan para dewan
    Politik identidas memecah belah sebabkan kericuhan

    Pertiwi oh pertiwi
    Apakah tubuhmu kini hanya milik politisi?

    Ri.2019


    Penulis adalah Fahrizal Aminuddin, Pemuda Asli desa Pancur, Mayong Jepara
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini lainya