• Jelajahi

    Copyright © Bilik Santri
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Puisi-Puisi Khoirul Latif; Jam Satu Malam

    Sabtu, 02 Mei 2020, 12:17:00 AM WIB Last Updated 2020-05-09T01:46:21Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Ilustrasi IDNTIMES

     

    Jam Satu Malam


    Malam telah larut
    Sedang segelas kopi, hanya sisa seseruput sunyi
    Yang makin bersahabat dengan dingin

    Aku ingin menyudahi
    Ruang termenungku selama berjam-jam lalu
    Sepasang mataku adalah malam lengang
    Dan pikiran yang melawan terpejam, sama dengan hatiku
    Masih ada yang tertinggal
    Di masa yang jauh

    Ada linang yang tertahan
    Melekat di balik kaca ruang tamu, seperti mataku
    Kabut telah menjadi selimut bagi malam hangat
    Juga embun, mulai mendekap dedaunan sunyi
    Dan rerumputan yang telah lama tertidur

    Jalanan hanya ada sepi dan suara angin lirih
    Tak ada yang lewat kecuali ingatanku, rindu

    Demak, 16 Februari 2020


    JINGGA, WAKTU DAN SUASANA HATI


    Jingga yang menyala senja itu,
    Ia selalu tergesa-gesa menjauh,
    Seperti nyala api membakar kayu,
    Singkat menjadikannya abu.
    Begitu pun dengan jingga pagi,
    Ia mudah datang dan lekas sembunyi.
    Jangan tanyakan di mana ia sembunyi
    Bahagia dan sedih selalu rentan kembali.
     
    Jingga menyukai pergantian waktu,
    Penghubung antara siang dan malam,
    Juga rasa dalam dirimu,
    Kebisingan dan kesunyian yang dipisah ketenangan.

    Siang menjadikan warna langit
    Lebih silau dari segalanya
    Dan malam meredupkan warna,
    Ia mahir mengubah warna cerah di tubuhmu,
    Suram dengan tetiba.
    Waktu punya suasananya masing-masing,
    Malam hadir dengan perasaannya yang lembab
    Dan kesunyian adalah mendung pekat, berharap segera hujan.
    Sementara siang, ia pandai merahasiakan kesedihan.

    Pada suatu jingga yang hangat,
    Kubayangkan kau berada di bibir pantai,
    Membiarkan perasaanmu terbuka,
    Lembut disentuh cahaya.
    Sepasang matamu ada pada langit,
    Mengamati satu persatu nyala bintang
    Yang dinyalakan perlahan dan berurutan.

    Di suatu jingga yang sejuk,
    Kubayangkan diriku berada di atap negeri,
    Merasakan getar-getar alam, merelaksasi sanubari.
    Pandanganku ada pada bentang cakrawala,
    Menyaksikan titik-titik cahaya,
    Perlahan lenyap dari jangkauan mata.
    Kicau burung, kabut, panorama dan lautan awan,
    Mereka pandai menumbuhkan rindu dan harapan.


    Demak, 17 April 2020

    Khoirul Latif ,Lahir di Demak, 11 Desember 1994 . Seorang pedagang kaki lima yang tengah belajar berpuisi.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini lainya

    NamaLabel

    +