Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Puisi - Puisi M.Z Bilal; Lelaki Pengembara

Ilustrasi seorang pengembara (pixabay.com)

 

Lelaki Pengembara

Oleh : Khoirullatif


Kau pergi ke dalam tiap halaman buku-buku
Berkelana seperti pengembara
menjamu diri sendiri dengan kata-kata serupa kebun apel
Agar nanti bisa kau tanak sendiri sajak
Untuk kau hidangkan dalam perhelatan hari raya kata-kata

Masa kecil yang mendung tak menggelapkan sepasang matamu yang liar dan tajam seperti pedang
Kau menebas rumpun ilalang dan mendaki puncak-puncak tinggi nan terjal
Mencari tahu kebenaran dan menemukan diri sendiri
Membangkang pada keragu-raguan
Memeluk langit yang dipenuhi sanjungan ke dalam dadamu
Menghirup serindu-rindunya keheningan dan kau pun telimpuh
“Tuhan, aku adalah kata-kata yang buta. Bukalah penutup ini
dengan tadabur air mata.”

Maka kau kini pun adalah lelaki yang mahir menanak kenangan
jadi kata-kata
Dan rindu adalah bahan alami yang mengawetkannya
Menjelma sajak, menjelma keabadian.

Kamar Kata, September 2019




Sumeleh


Dan demi sulur nurMu yang benderang
Aku adalah larut malam yang bermalamdi jalan-jalan sunyi Merangkul diri sendiri
Menghitung berapa jauh jarak dingin membentang
Telah kutempuh untuk menggapai jemari kekasihMu yang tiada pernah menolak tiap uluran tangan
Bahkan yang paling legam sekalipun
Jemari lembut nan hangat yang tak surut mengalirkan cinta dan kedamaian
Hingga nanti semesta menabur diri dan hening abadi

Aku kerap tersesat dan kehilangan banyak akal
Gelap sempurna dan berpesta;menikam waktu, hura-hura
tiada mau tahu sisa umur adalah esok yang kelabu
Sebab yang aku mau hanyalah gelas-gelas anggur tetap penuh,
ranjang-ranjang terus melenguh,
meja-meja dipenuhi kartu dan mata dadu
Sampai sepasang telingaku pun akhirnya buntu
Mengabaikan seru mendayu dari kubah subuh dan usapan pada hatiku yang kayu
Aku sungguh mengaku, kelu lagi dungu.

Dan kini aku terbangun dalam gelap di jalan waktu yang begitu panjang dan melingkar-lingkar, tanpa siapapun di sisiku
Kecuali tangis tertahan dan kesunyian yang menderukan amuk sesal
Menyerah dan bertanya-tanya pada titik-titik kecil cahaya yang datang dari jauh untuk menerangi sepasang mata rabunku
Apa Tuhan sudah memaafkan aku?
Apa Tuhan akan menerima sembahku?
Sungguh aku ingin larut ke dalam sepertiga malam
dan menjadi malam yang mendengar rindu
berzikir merdu sampai ujung jalan paling jauh.

Ruang Tadabur, Desember 2019



Penulis adalah M.Z. Billal, lahir di Lirik,Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019) dan telah tersebar di media seperti Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Radar Mojokerto, Haluan Padang, Padang Ekspres, Riau Pos, apajake.id, Fajar Makassar, Banjarmasin Post, Magelang Ekspres, Radar Cirebon, Kedaulatan Rakyat, Lentera PGRI, Kurungbuka.com, Medan Pos, Radar Malang, Radar Tasikmalaya, Bangka Pos, Travesia.co.id, Radar Bekasi, mbludus.com, Tanjung Pinang Pos, biem.co. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Komunitas Pembatas Buku Jakarta

Posting Komentar untuk "Puisi - Puisi M.Z Bilal; Lelaki Pengembara"

Berlangganan via Email