• Jelajahi

    Copyright © Bilik Santri
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Puisi - Puisi M.Z Bilal; Lelaki Pengembara

    Jumat, 08 Mei 2020, 9:12:00 PM WIB Last Updated 2020-05-09T01:37:05Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini
    Ilustrasi seorang pengembara (pixabay.com)

     

    Lelaki Pengembara

    Oleh : Khoirullatif


    Kau pergi ke dalam tiap halaman buku-buku
    Berkelana seperti pengembara
    menjamu diri sendiri dengan kata-kata serupa kebun apel
    Agar nanti bisa kau tanak sendiri sajak
    Untuk kau hidangkan dalam perhelatan hari raya kata-kata

    Masa kecil yang mendung tak menggelapkan sepasang matamu yang liar dan tajam seperti pedang
    Kau menebas rumpun ilalang dan mendaki puncak-puncak tinggi nan terjal
    Mencari tahu kebenaran dan menemukan diri sendiri
    Membangkang pada keragu-raguan
    Memeluk langit yang dipenuhi sanjungan ke dalam dadamu
    Menghirup serindu-rindunya keheningan dan kau pun telimpuh
    “Tuhan, aku adalah kata-kata yang buta. Bukalah penutup ini
    dengan tadabur air mata.”

    Maka kau kini pun adalah lelaki yang mahir menanak kenangan
    jadi kata-kata
    Dan rindu adalah bahan alami yang mengawetkannya
    Menjelma sajak, menjelma keabadian.

    Kamar Kata, September 2019




    Sumeleh


    Dan demi sulur nurMu yang benderang
    Aku adalah larut malam yang bermalamdi jalan-jalan sunyi Merangkul diri sendiri
    Menghitung berapa jauh jarak dingin membentang
    Telah kutempuh untuk menggapai jemari kekasihMu yang tiada pernah menolak tiap uluran tangan
    Bahkan yang paling legam sekalipun
    Jemari lembut nan hangat yang tak surut mengalirkan cinta dan kedamaian
    Hingga nanti semesta menabur diri dan hening abadi

    Aku kerap tersesat dan kehilangan banyak akal
    Gelap sempurna dan berpesta;menikam waktu, hura-hura
    tiada mau tahu sisa umur adalah esok yang kelabu
    Sebab yang aku mau hanyalah gelas-gelas anggur tetap penuh,
    ranjang-ranjang terus melenguh,
    meja-meja dipenuhi kartu dan mata dadu
    Sampai sepasang telingaku pun akhirnya buntu
    Mengabaikan seru mendayu dari kubah subuh dan usapan pada hatiku yang kayu
    Aku sungguh mengaku, kelu lagi dungu.

    Dan kini aku terbangun dalam gelap di jalan waktu yang begitu panjang dan melingkar-lingkar, tanpa siapapun di sisiku
    Kecuali tangis tertahan dan kesunyian yang menderukan amuk sesal
    Menyerah dan bertanya-tanya pada titik-titik kecil cahaya yang datang dari jauh untuk menerangi sepasang mata rabunku
    Apa Tuhan sudah memaafkan aku?
    Apa Tuhan akan menerima sembahku?
    Sungguh aku ingin larut ke dalam sepertiga malam
    dan menjadi malam yang mendengar rindu
    berzikir merdu sampai ujung jalan paling jauh.

    Ruang Tadabur, Desember 2019



    Penulis adalah M.Z. Billal, lahir di Lirik,Indragiri Hulu, Riau. Menulis cerpen, cerita anak, dan puisi. Karyanya termakhtub dalam kumpulan puisi Bandara dan Laba-laba (2019, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali), Membaca Asap (2019), Antologi Cerpen Pasir Mencetak Jejak dan Biarlah Ombak Menghapusnya (2019) dan telah tersebar di media seperti Pikiran Rakyat, Rakyat Sumbar, Radar Mojokerto, Haluan Padang, Padang Ekspres, Riau Pos, apajake.id, Fajar Makassar, Banjarmasin Post, Magelang Ekspres, Radar Cirebon, Kedaulatan Rakyat, Lentera PGRI, Kurungbuka.com, Medan Pos, Radar Malang, Radar Tasikmalaya, Bangka Pos, Travesia.co.id, Radar Bekasi, mbludus.com, Tanjung Pinang Pos, biem.co. Fiasko (2018, AT Press) adalah novel pertamanya. Bergabung dengan Community Pena Terbang (COMPETER) dan Komunitas Pembatas Buku Jakarta
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini lainya

    NamaLabel

    +