• Jelajahi

    Copyright © Bilik Santri
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Membahagiakan Diri Ditengah Pandemi

    Senin, 02 November 2020, 7:05:00 AM WIB Last Updated 2020-11-02T00:05:25Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


     

    Biliksantri.com - "Daripada bepergian yang tidak jelas, lebih baik muludan biar berkah". Begitulah celoteh seseorang yang sejak tadi duduk di sebelah saya. Tiap tahun sekali di kampung saya, di bulan Rabi'ul Awwal rutin diagendakan muludan. Yakni peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan bulan mulud (Jawa). Tua muda, laki-laki maupun perempuan bergiliran membaca sejarah Nabi Muhammad SAW lewat Kitab al-Barjanzi. Kalau di kampung saya, suasana bulan mulud hampir sama pada Ramadhan atau puasa. Banyak dari mereka berkumpul tiap malam sampai bulan mulud selesai.

    Raut muka para jamaah begitu riang. Bahagia bercampur Sendai gurau setelah selesai membaca al-Barjanzi. Suguhan makanan dan minuman yang sederhana, menambah kehangatan suasana kampung. Tiap rumah menyediakan suguhan yang berbeda.  Tergantung pemilik rumah dan semampunya. Karena dalam tradisi kami tidak ingin memberatkan tuan rumah yang nantinya ditempati.

    Makanan yang tersaji biasanya hanya roti, kacang, semangka dan makanan ringan lainnya. Terkadang, makanan tradisional juga ada. Di kampung kami, suguhan berupa makanan bakso, sup dan nasi lodeh tergolong mewah. Lain halnya mungkin di perkotaan.

    Tradisi itu dilakukan sudah lama, sejak saya belum lahir dan bertahan sampai hari ini. Nyaris tak ada yang berbeda, baik nada solawat al-Barjanzinya ataupun suguhannya. Dari dulu itu-itu saja. Biasa saja dan wajar. Meski di tengah Pandemi Covid-19, acaranya tetap berjalan seperti biasa.

    Kampung saya berada di pegunungan. Jauh dari hiruk pikuk gemerlapnya kota. Bahkan dari awal munculnya Korona, di kampung saya tetap melakukan aktivitas biasa. Kecuali kalau keluar desa, masyarakat tetap memakai masker.

    Meski terlihat sederhana, kami tak merasa risih satu sama lainnya. Kami berbaur dengan sesama sehingga emosional warga desa tetap terjaga. Tak peduli apa masalahmu, setelah acara muludan biasanya ngobrol seputar kehidupan mereka. Pengalaman dan apa yang dialami selama satu hari mereka berkaktivitas. Rasa kekeluargaan dan tanpa beban sangat saya rasakan. Mereka begitu santai, ngobrol sana sini sambil menyemil makanan yang disediakan.

    Itulah suasana yang kita rindukan. Tak mengenal kasta atau martabat. Hidup bermasyarakat dan begotong royong itu sangat diperlukan. Sesederhananya itu mereka menikmati hidup. Terutama para petani di kampung saya. Setengah hari ke sawah, siangnya istirahat dan sorenya bermain sama cucu. Mereka tak khawatir besok makan apa. Tetapi bagaimana berusaha mencukupi kebutuhan semampunya.

    Ekonomi Cukup


    Ambisi manusia itu selalu ingin lebih dan lebih. Lebih kaya, lebih hebat, lebih modern, lebih suksesdan lainnya adalah sifat yang melekat di modern ini. Sehingga memaknai sederhana tak semudah apa yang tergambar di atas. Umumnya, mereka membuat standar hidup imajinasi yang tinggi melebihi kebutuhan. Bahkan sudah tingkat keinginan yang berlebihan. Misalnya kalau seorang pejabat sudah memiliki dua mobil, gaji tetap, rumah dinas, banyak tunjangan dan sebagainya. Tapi tetap korupsi. Apa yang salah?. Kurang cukupkah?. Kalau mental kita terlatih menjadi orang yang lebih, maka potensi korupsi itu tetap ada.

    Momentum Covid-19 sebagai ajang rekontruksi tata ulang kehidupan kita. Yang dulunya sering belanja kesana kemari. Liburan tiap pekan. Kini harus beradaptasi dengan situasi. Termasuk pola dan gaya hidup kita.

    Ekonomi cukup menawarkan bagaimana gaya hidup atau orientasi kita ke depan. Gengsi yang besar akan membuat manusia celaka. Begitupun jika hidup kita hanya berorientasi pada materi. Kita punya agama, leluhur dan budaya. Jangan sampai hilang hanya karena kenikmatan sesaat.

    Belajarlah lewat penduduk kampung. Bagaimana ia tetap bertahan hidup dan keadaan sama sebelum atau sesudah Covid-19. Disini bukan nilainya yang kita ambil, tetapi bagaimana cara memaknai kehidupan. Adapun bentuknya berbeda, terserah masing-masing individu.

    Jadi, biasakan hidup kita berperilaku sederhana. Makna sederhana jangan diartikan apa adanya. Tetapi memanfaatkan sesuatu sekeliling kita yang sekiranya kita butuhkan.

    Muhammad Nur Salim adalah Pemimpin Redaksi Biliksantri.com LPP PAC IPNU IPPNU Mayong Jepara

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini lainya