Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cerpen M.Z. Bilal: Menyelamatkan Keluarga Pohon

    
menyelamatkan-keluarga-pohon

Biliksantri.com - Zain memandang sekumpulan lelaki dewasa bersepatu bot kuning turun dari mobil putih melalui jendela kaca samping kanan rumahnya, yang tepat menghadap tepi hutan karet. Ia mengawasi orang-orang itu layaknya seorang pengintai. 

Di kepalanya tumbuh banyak sulur pertanyaan dan rasa curiga. Tapi entah kenapa dugaan-dugaan itu malah membuatnya cemas. Apa lagi setelah ia melihat ayahnya berkumpul bersama orang-orang itu. Makin tidak nyaman perasaannya. 

Ingin sekali ia mendengarkan perbincangan orang-orang dewasa itu. Tapi ia terlalu kecil untuk ikut campur. Usianya baru menginjak delapan tahun. Jadi ia hanya bisa berharap bahwa semua percakapan mereka tidak ada kaitannya dengan hutan karet milik ayahnya. Tempat ia biasa bermain dan berkeliling melihat pohon-pohon besar pada hari libur, sembari menunggu ayah dan ibunya selesai menyadap. 

Sebab beberapa waktu lalu, saat makan malam, ayah dan ibunya membicarakan soal ladang karet itu. Mereka berdiskusi hendak menjual ladang itu kepada seorang pria kaya untuk ditanami pohon sawit. Ia sampai nyaris tersedak ketika menangkap pembicaraan kedua orang tuanya itu. Di pelupuk matanya terbayang barisan pohon karet, pohon-pohon besar dan pohon-pohon kecil yang tumbuh di sela-sela, juga burung-burung bersuara merdu akan musnah dari pandangannya. Digantikan deretan pohon sawit yang membosankan.

Padahal ia begitu menyayangi pohon-pohon itu layaknya keluarga.

Diam-diam, tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, ia suka berbincang dengan pohon-pohon itu. Membahas impian, hal-hal menggembirakan, juga tentang rasa kesalnya ketika tidak mampu menjawab soal-soal ujian di sekolah. Hutan karet itu sudah seperti rumah kedua untuknya.

*

           “Ayah sebetulnya masih ragu, Bu.”

Ayahnya membuka percakapan saat sarapan pada hari berikutnya. Ia pura-pura tidak mendengar sambil terus menyuap nasi goreng, saat ibunya membalas ucapan ayahnya.

“Mengapa Ayah ragu? Bukankah kita sudah sepakat untuk melepas ladang itu.”

Zain merasa jantungnya seperti hendak melompat ke luar dari rongga dadanya. Sepagi ini ia harus kembali mendengar orang tuanya membahas tentang hutan karet itu. Ada rasa kesal yang sudah pasti tidak bisa ia ungkapkan.

      “Harganya tidak sesuai, Bu. Pria itu menawar lebih murah.” Ayahnya membalas sambil menunjukkan ekspresi kecewa. Sementara ibunya hanya manggut-manggut. Seperti coba memahami kalimat ayahnya.

“Tapi, Ayah,” balas ibunya. “Sebaiknya Ayah pikirkan lagi. Kita tahu ladang itu sudah tidak subur lagi. Getah pohon karet itu sudah tidak bisa diharapkan. Satu minggu kita sadap hanya bisa menghasilkan satu ember saja. Sementara kebutuhan kita semakin banyak. Barangkali jika ladang itu kita jual, kita bisa membuat usaha baru yang lebih menghasilkan.”

Ayahnya terdiam. Sedang memikirkan kata-kata ibunya. Tapi Zain merasa bahwa ayahnya akan sepakat oleh ucapan ibunya.  Jadi, sebelumnya ayahnya menjawab, ia menyela perkataan ibunya.

          “Zain tidak setuju, Bu!”

Spontan suasana pagi itu langsung berbeda. Ayahnya yang masih berpikir langsung tersentak. Sementara ibunya menatap tajam ke arah Zain yang langsung menunduk.

     “Zain, kamu tidak boleh menyahut pembicaraan orang tua, Nak. Itu tidak boleh.” Ibunya memberitahu dengan lembut.

        “Iya, Bu. Maafkan Zain. Tapi Zain betul-betul tidak setuju jika Ayah dan Ibu hendak menjual ladang karet itu. Zain sedih sekali mendengarnya.”

Ayahnya langsung mendengus, seperti menahan tawa saat mendengar ucapannya. Seakan ia baru saja mengatakan hal yang lucu. Padahal ia betul-betul sedang berusaha meluapkan isi hatinya. Mungkin ayahnya berpikir bahwa anak umur delapan tahun tidak mungkin mampu ikut serta dalam percakapan orang dewasa.

            “Kenapa Zain sedih, Nak?” tanya ayahnya.

            “Kita hanya akan menjual ladang itu. Tidak membuat keluarga kita berpisah.”

            “Betul sekali, Zain. Ayah dan Ibu sudah memikirkan ini kok.”

Ibunya langsung membelai rambutnya sambil tersenyum. Meski ia sadar kalau caranya menyela tadi kurang sopan. Tapi sungguh, apa pun alasan yang dikemukakan oleh kedua orang tuanya, tidak akan mengubah pilihannya untuk tetap bersikap tidak setuju. 

           “Zain sayang pohon-pohon di sana, Bu.” Zain berusaha menjelaskan.

        “Bukankah kita dan pohon-pohon itu sudah seperti keluarga? Ayah dan Ibu menyadap mereka untuk diambil getahnya. Sementara Zain bisa mengenal mereka lebih dekat. Pohon-pohon di sana sudah menjadi sahabat Zain, Bu. Ladang karet itu adalah tempat bermain yang indah.”

Ayahnya cukup tercengang setelah mendengar ucapan Zain. Mulutnya sedikit terbuka. Sementara Ibunya bergantian memandangi ayahnya, lalu ke dirinya yang masih tidak berani mengangkat wajahnya. Mungkin ibunya bingung kenapa ia sampai bisa mengatakan itu.

           “Kenapa Zain bilang begitu, Nak. Kita….” 

Belum sempat perkataan ibunya selesai, Zain langsung menukas lagi.

        “Hanya karena mereka tidak lagi menghasilkan getah lebih banyak, bukan berarti kita harus menjualnya kan, Bu?  Kita masih bisa merawat mereka sampai subur lagi. Zain sedih saat harus melihat ladang karet itu digantikan pohon-pohon sawit. Pokoknya, Zain tidak setuju!”

Zain berusaha membela keadaan pohon-pohon karet itu sebisa mungkin. Tidak peduli kedua orang tuanya akan marah atas sikapnya yang berlebihan. Tanpa memikirkan dampak yang diakibatkannya. 

Lalu tak mau berlama-lama berdebat, ia memilih beranjak dan pergi. Buru-buru berlari ke luar rumah. Menuju ladang karet itu sambil meneteskan air mata. Meninggalkan kedua orang tuanya yang masih saling pandang. Barangkali dipenuhi rasa bingung melihat anak laki-laki mereka yang masih kecil bisa ikut berdebat soal urusan menjual ladang karet.

*

Zain masih menangis ketika sampai di depan pohon besar yang rimbun. Ia merasa sangat kecewa. Mungkin usahanya tidak akan membuahkan hasil. Ayahnya pasti tetap menjual ladang kepada orang kaya itu. Sampai kemudian ia mendengar suara bisik-bisik di sekelilingnya, barulah ia berhenti menangis. Pohon-pohon itu mulai membicarakan dirinya.

        “Mengapa kamu menangis, Zain?” tanya pohon besar itu. Disusul pertanyaan lain dari pohon karet dan semak rendah berbunga ungu yang tumbuh di dekatnya. 

        “Tidak biasanya kamu datang ke sini sambil menangis?”

        “Iya, benar sekali. Kamu anak lelaki yang periang. Tapi sekarang malah bersedih.”

Zain memutar tubuhnya. Mengedarkan pandangan sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi. Sementara itu, sepasang telinganya terus mendengar pertanyaan yang diajukan pohon-pohon itu kepadanya.

        “Baiklah,” kata Zain.

        “Aku sangat sedih hari ini. Mungkin hari ini adalah yang terakhir aku mengunjungi kalian. Besok tidak akan sama lagi. Meski jarak rumah dan tempat ini begitu dekat.”

Ia merasa berat untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi ia berusaha kuat untuk itu.

    “Ayahku akan menjual ladang ini. Kalian semua tidak akan berada di sini lagi. Tanah ini akan digantikan pohon sawit.”

Sebagian besar pohon karet yang masih kecil merasa terkejut mendengar kabar itu. Tapi tidak untuk pohon-pohon yang berukuran besar, termasuk pohon rimbun di yang tumbuh kokoh di hadapannya.

            “Kenapa ayahmu menjual rumah kami?” 

tanya pohon karet kecil yang daunnya baru tumbuh lima lembar. 

            “Iya, kami sangat takut.” Timpal pohon karet kecil yang lain.

Suasana mulai tidak terkendali. Pohon-pohon karet remaja berusaha mencabut dirinya sendiri. Mungkin ingin kabur dari ladang itu. Sementara yang masih kecil mulai merengek ketakutan.

           “Mohon tenang,” Pohon besar berdaun rimbun itu mulai bicara.

        “Baiklah, kita para orang tua sudah tahu kalau ladang ini akan dijual oleh Ayah Zain. Memang menakutkan. Tapi kita tidak bisa berbuat banyak. Kita harus siap menghadapi ini. Setidaknya kita telah diberi kesempatan untuk hidup sebagai pohon yang berguna untuk manusia,".

          “Betul sekali,” pohon karet besar lain menimpali “Kita harus siap menghadapi ini.”

          “Tidak!” Tiba-tiba Zain berseru.  Menyela semua pembicaraan.

        “Aku tidak mau kehilangan kalian. Aku tidak mau kalian digantikan pohon-pohon sawit.  Kita pasti bisa membatalkan semua itu. Ayolah!”

        “Bagaimana caranya, Nak?” tanya pohon rimbun itu.

        "Alasan ayahku menjual ladang ini karena dia menganggap kalian tidak lagi menghasilkan. Getah-getah kalian tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarga kami. Jujur kami memang menghadapi masa sulit sekarang. Aku suka mendengar obrolan kedua orang tuaku. Andai saja aku sudah besar, aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Tapi jika kalian bisa mengeluarkan getah lebih banyak hari ini, mungkin ayahku tidak menjual ladang ini. Bagaimana?”

        “Itu tidak mungkin, Nak.” Pohon karet yang batangnya besar berbonggol dan mulai lapuk membalas ucapannya.

        "Aku pohon karet paling tua di ladang ini. Tanah di sini memang sudah tidak subur. Kami sulit mendapat makanan yang bisa membuat kami mengeluarkan getah lebih banyak. Anak dan cucu kami pun akan mengalami hal yang sama.”

Zain tidak bisa mengatakan apa-pa lagi. Ia hanya bisa menunduk dan kembali menangis. Ia merasa sangat sedih. 

        “Kalau begini aku tidak ingin jadi anak manusia!” Zain terisak. 

        "Manusia mudah sekali melepaskan sesuatu yang pernah berharga dalam hidupnya. Mereka tidak punya perasaan. Padahal kalian telah berjuang dan membantu hidup kami. Hutan sudah memberikan banyak hal yang bermanfaat.”

Zain makin bersedih. Air matanya mengalir lebih deras. Tapi entah kenapa mendadak ia jadi sendirian. Tidak ada lagi terdengar pohon-pohon berbicara. Burung-burung juga berhenti berkicau. Mungkin mereka sudah pasrah. Hingga akhirnya ia mendengar suara langkah seseorang di belakang punggungnya. Orang itu lantas memanggil namanya.

“Zain?”

Perlahan Zain memutar tubuhnya masih dalam keadaan menangis. Menghadap seorang lelaki yang ternyata adalah ayahnya sendiri.

“Ayah.”

“Iya, Nak.” Ayahnya menjawab sambil tersenyum.

“Baiklah, setelah Ayah dan Ibu pikir-pikir, mungkin kamu benar. Hanya karena mereka tidak menghasilkan getah yang banyak, bukan berarti kita bisa memusnahkan kehidupan mereka.”

Zain berhenti menangis. Ia memandang lekat ke wajah ayahnya.

        “Jadi bagaimana, Ayah?”

“Kita akan tetap bersama pohon-pohon karet ini. Besok ayah akan membeli banyak pupuk untuk mereka. Ayah tidak jadi menjualnya.”

Tanpa pikir panjang, Zain langsung memeluk ayahnya. Ia merasa begitu lega. Air mata yang jatuh selanjutnya bukan air mata kesedihan. Melainkan tangis kebahagiaan. Ia betul-betul tidak menyangka ayahnya berubah pikiran. Pohon-pohon pun merasa ikut berbahagia mendengar kabar itu. Mereka menari bersama embusan angin yang mengibarkan daun-daun mereka. Dalam pelukan ayahnya ia mendengar pohon rimbun berbisik,

“Terima kasih, Zain. Sudah menyelamatkan hidup kami.”

(Bil/Lim)

1 komentar untuk " Cerpen M.Z. Bilal: Menyelamatkan Keluarga Pohon"

Berlangganan via Email