Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Salah Paham dan Pahamnya Salah

salah-paham-pahamnya-salah
Ilustrasi Gambar (Salim)


Biliksantri.com - Manusia terbagi menjadi dua kategori dalam membangun peradaban dunia ini. Pertama, ada tipe manusia yang suka berpikir. Mengandalkan cara pandang mereka yang diyakini benar berdasarkan imajinasi mereka dan fakta di lapangan. 

Manusia jenis ini bisa dikatakan seorang filosof atau orang yang ahli dalam bidang filsafat. Filsafat secara umum dapat diartikan berpikir sampai ke akar-akarnya. Sampai menemukan akhir dari sebuah akibat dan siapa yang menyebabkan hal itu terjadi. Filsafat dalam agama Islam termasuk kategori ilmu yang harus dikawal dengan iman. Tanpa iman, pikiran seseorang tidak terkendali dan menyebabkan dia tak percaya adanya Allah. Bahkan secara psikologis, dapat membuat manusia hilang akal. 

Kaum berpikir cenderung asyik dengan dunianya sendiri. Karena dia mengetahui hakikat dari segala sesuatu yang dipandang mata. Manusia tipe ini cocok menjadi ilmuan, manager, pejabat dan lainnya. Seorang yang berpikir, akan menemukan konsep-konsep baru dari sebuah ilmu pengetahuan juga etika peradaban manusia. Hal itu, tidak gampang dipahami kebanyakan orang dan mengira sang pemikir itu tak waras. 

Seperti yang dialami oleh KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), baik sejak ia menjadi penulis kolom, Ketua Umum PBNU, bahkan saat menjabat Presiden RI ke-4. Pikirannya terlampau jauh ke revolusioner hingga membuat kawan dan lawannya 'geleng-geleng kepala'. Seperti kata Ahmad Dhani, Gus Dur itu diibaratkan sebuah kereta yang melaju pesat. Namun, gerbongnya tak bisa mengikuti dan bergerak lambat. 

Akhirnya, muncul ungkapan dari manusia pemikir yang dianggap kontroversial oleh orang yang belum paham. Biasanya ungkapan tersebut bisa terima setelah manusia pemikir sudah meninggal. Orang-orang akan paham apa yang dikatakan dahulu dan membenarkannya.

Kedua yakni manusia pekerja. Kategori ini dimiliki manusia pada umumnya. Mereka lebih banyak menggunakan fisik (otot). Bisa dikatakan, manusia pekerja adalah penopang dari manusia berpikir. Tanpa berpikir, manusia tak bisa mengonsep peradaban. Tanpa bekerja, manusia tidak dapat mewujudkan peradaban itu. 

Logisnya, manusia jenis ini adalah tangan kanan dari manusia pemikir. Bisa juga sebaliknya, tergantung situasi di lapangan. Keduanya tak bisa dipisahkan. 

Meski demikian, terkadang menimbulkan kesalahpahaman jika kedua tipe manusia ini dikumpulkan. Terlebih, baru pertama kali kenal atau tidak biasa dengan keadaan secara emosional.  Karena seringkali, ego mereka muncul di suatu organisasi atau perusahaan tempat mereka sama-sama bernaung.

Tipe pemikir, disamping berpikir fakta, juga imajinasi mereka yang kuat. Sehingga, kadang orang lain terkecoh dengan tingkah laku dohirnya. Tipe pekerja lebih dekat perasaan, emosional, membangun kemistri lewat tutur kata yang halus. Sedangkan, pemikir membangun kemistri lewat kekuatan pikiran.

Salah Paham

Kesalahpahaman sering terjadi antar keduanya. Seperti di dalam organisasi, itu dibagi beberapa devisi dan memiliki tanggung jawab serta fungsi yang berbeda. Tujuannya untuk menyukseskan program kerja. Ada yang mempersiapkan konsep, pengumpulan dana dan lainnya. Hal ini untuk mempermudah jalannya kegiatan dan menciptakan kerjasama yang baik.

Secara tak sadar, divisi itu melahirkan dikotomi antar keduanya. Lebih jelasnya, yang lelah berpikir tidak berpartisipasi untuk bekerja, dan sebaliknya karena lelah bekerja maka mereka tidak lagi terlibat untuk berdiskusi ataupun berpikir.

Hal ini akan sangat fatal, jika ditambah pekerja salah paham dengan apa yang telah dikonsep pemikir. Dikotomi ini menyebabkan saling ketergantungan dan saling harap. Pekerja tidak bisa bergerak tanpa komando dari pemikir, atau pemikir tidak bisa melanjutkan tanggungjawabnya tanpa ada hasil laporan dari pekerja. Hasilnya, mereka akan saling lempar harap dan cemas atau saling menyalahkan.

Kerja Tim

Oleh sebab itu, kedua tipe manusia itu harus punya kerja sama tim. Agar visi, misi dan tujuan organisasi tercapai. Yang harus diperhatikan yakni kesadaran sosial. Baik pemikir maupun pekerja harus memaksimalkan keualitas kerja secara kolektif. Ini adalah pondasi utama dalam peradaban. Hindari menonjolkan kemampuan diri sendiri. 

Kedua yakni semangat berpikir dan bekerja secara bersamaan. Orang yang gemar berpikir tapi lumpuh dalam bertindak, tak akan bisa menggerakkan roda organisasi. Sebaliknya, pekerja tanpa berpikir, mereka lincah tapi tujuan tak terarah, bisa berakibat pahamnya salah. 

Untuk itu, kita semua harus mengenali diri sendiri, jenis manusia tipe apakah kita. Kemudian, mencoba membangun dengan tim yang solid. Insyaallah segala tujuan tercapai dengan sistematis dan terarah dengan baik.

Penulis adalah Muhammad Nur Salim, kolomnis Biliksantri.com

Posting Komentar untuk " Salah Paham dan Pahamnya Salah"

Berlangganan via Email