Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Salat, Mi'raj Orang Beriman

sholat-mi'raj-orang-beriman
Ilustrasi salat (sumber:istimewa)

Biliksantri.com "Apa yang hendak kau sombongkan, yang membuatmu melangkah dengan dada membusung dagu mendongak, merasa lebih dari orang-orang yang tak seberuntung dirimu? Bukankah seiring detik berdetak, kain kafanmu sedang diuntai, mengejarmu untuk dipakai?" (Maman Suherman)

Begitu, selarik sajak yang seketika menampar diri. Perlu kita ingat, hidup di dunia ini hanyalah kompetisi untuk menentukan tempat kita kelak di akhirat, surga atau neraka. Ini sangat tergantung kepada persiapan apa yang kita lakukan di dunia. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang pantas disombongkan, karena semua adalah milik Allah SWT, semuanya adalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil-Nya kapan saja sesuai kehendak-Nya.

Karena itu, di dunia ini sudah seharusnya kita melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Hal terbaik yang dapat kita lakukan adalah hanya dengan terus mencari bekal untuk akhirat nanti, karena kita tidak pernah tahu kapan maut akan menjemput. 

Salat adalah ibadah paling istimewa, di akhirat nanti salat menjadi ibadah pertama yang akan dihisab. Di balik semua itu, salat memiliki kisah yang sangat istimewa yang dialami oleh baginda Nabi Muhammad SAW. 

Mi'raj merupakan salah satu mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai ciptaan paling utama. Hal ini menunjukkan kedudukan salat sangat penting dan istimewa di mata Allah. Karena itu, salat memang erat kaitannya dengan Mi'raj

Peristiwa isra' mi'raj

Allah menjelaskan dalam QS. Al Israa ayat 1 

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

"Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat."
(QS. Al-Isra' 17: Ayat 1)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa isra' mir'aj merupakan perjalanan (diperjalankan oleh-Nya) Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram (Mekkah) ke Masjidil Aqsha (Palestina) untuk memperlihatkannya ayat-ayat Allah Yang Agung.

Sedangkan Mi'raj merupakan perjalanan lanjutan Rasulullah dari bumi ke langit paling tinggi, yang tidak terjangkau oleh sembarang makhluk dan tidak terlukiskan oleh bahasa bumi.

Seperti itulah isra' mi'raj, sebuah perjalanan spiritual yang dahsyat dari tempat suci ke tempat suci dan menerobos lapis-lapis langit hingga puncak segala puncak (Sidratul Muntaha). Terdapat beberapa riwayat yang mengatakan bahwa sebelum Nabi Muhammad SAW memulai perjalanan isra' mi'raj, beliau dibedah bagian dalamnya, disucikan sebagaimana bayi baru lahir, hingga Rasulullah benar-benar dalam keadaan suci.
 
Dalam Shohih Bukhori Juz 5 halaman 52 dijelaskan bahwa dalam peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW bertemu _(bermunajat)_dan menghadap Allah SWT. Selain menyaksikan ayat-ayat keagungan Allah dalam perjalanan spiritual yang dahsyat itu, Rasulullah ketika menghadap Tuhannya di anugerahi sesuatu yang luar biasa. Tak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga sebagai oleh-oleh untuk umatnya yang beriman. 

Allah memerintahkan Nabi untuk melaksanakan salat fardlu sebanyak 50 waktu setiap hari. Nabi menerima dan kemudian kembali pulang. Dalam perjalanan pulangnya ia bertemu dengan Nabi Musa AS. Nabi Musa mengingatkan bahwa umat Nabi Muhammad tidak akan mampu dengan perintah salat 50 kali dalam sehari itu. Atas permintaan Nabi Musa, Rasulullah kembali menghadap kepada Allah swt meminta keringanan untuk umatnya.

Setelah menghadap, diringankanlah menjadi salat 45 kali dalam sehari. Kemudian Rasulullah kembali kepada Nabi Musa dan mengingatkan lagi sebagaimana yang pertama. Rasulullah pun kembali untuk yang kedua kalinya kepada Allah SWT sampai akhirnya Allah mewajibkan salat 5 waktu dalam sehari. Rasulullah kembali kepada Nabi Musa, tetap saja Nabi Musa mengatakan hal yang sama jika umatnya tidak akan mampu melakukan sejumlah itu.

Namun setelah itu Rasulullah malu kepada Allah dan tidak mau meminta keringanan lagi. Nabi Muhammad ridho dan pasrah kepada Allah. Akhirnya ditetapkanlah salat fardlu 5 waktu: dhuhur, ashar, mahrib, isyak, dan subuh. Seperti yang telah kita jalankan saat ini.


panflet-isra'-mi'raj
Isra' Mi'raj 1442 H / 2021 M (Doc. PAC IPNU IPPNU MAYONG)


Salat sebagai mi'raj orang beriman

Pada saat mendirikan salat, seorang beriman pada hakikatnya sedang bermunajat, berkomunikasi, bercengkrama, dan berdoa secara langsung kepada Allah. Salat yang telah kita lakukan sehari-hari bisa dikatakan sebagai perjalanan puncak menghadap Allah. Memulai salat dengan mengagungkan Allah dengan kalimat Allahu Akbar,  sekaligus berarti pengakuan dan keamatkerdilan diri sebagai hamba. Secara ruhaniyah hal ini amat mirip dengan peristiwa mi'raj yang dialami Nabi. 

Rasulullah SAW bersabda: 
"Sesungguhnya kalian apabila sholat maka sesungguhnya ia sedang bermunajat (bertemu) dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerti bagaimana bermunajat dengan Tuhan" 
(HR. Hakim).

Dari hadis itu maka bagi seseorang yang dalam dirinya terdapat sedikit saja kesombongan, tentu sulit untuk memulai salat, kecuali sekadar untuk memenuhi ketentuan formalnya yang tidak dapat membawanya ber mi'raj kepada puncak sholat.

Seorang mukmin yang menyadari salatnya ibarat ber mi'raj akan dapat menyaksikan ayat-ayat agung Tuhannya. Ia dapat membuatnya mampu melihat dirinya secara utuh sebagai hamba Allah yang diangkat sebagai Khalifah di bumi.

Itulah mengapa Allah tidak hanya memerintahkan untuk sekedar mengerjakan salat, namun Allah memerintah kita untuk mendirikan salat. Karena Salat merupakan sesuatu yang dapat mengangkat mukmin dari kerendahan bumi ke ketinggian langit. Sesuatu yang dapat menjaga dan mendekatkan hubungan makhluk yang dhaif dengan sang Khaliqnya yang Maha agung. Sesuatu yang dapat menjamin manusia tetap dalam kemuliaan kemanusiaannya. Sesuatu yang dapat mengolah lumpur manusiawi menjadi bersinar-sinarkan cahaya ilahi. 

Namun pertanyaannya, apakah selama ini kita sudah benar-benar mendirikan salat? Ataukah megerjakannya hanya untuk menggugurkan kewajiban dan membuat lega jika sudah ditunaikan? Wallahu a'lam.

Salat adalah rukun islam kedua. Salat juga bisa kita analogikan sebagai salah satu bagian tubuh manusia. Rukun islam pertama adalah syahadat yang bisa diibaratkan sebagai nyawa, sholat sebagai kepala, zakat sebagai tangan, puasa sebagai perut, dan haji diibaratkan sebagai kaki. 

Dari analogi tersebut bisa dilihat, jika tidak mendirikan salat, maka rapuhlah tiang agama kita. Jadi marilah kita gunakan momen isra' mi'raj ini untuk memperbaiki salat masing-masing. Marilah me mi'raj kan diri kita. Karena komunikasi terdekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah saat mendirikan salat. 

*terinspirasi dari berbagai buku bacaan

Ifa Rizki Purnamawati, Pemimpin Redaksi Biliksantri.com

Posting Komentar untuk "Salat, Mi'raj Orang Beriman"

Berlangganan via Email