Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ramadhan 2026: MBG Menjadi Ujian Nalar dan Adab Anggaran

Pembagian MBG Pada Anak

Biliksantri.com - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini berada di titik nadir antara ambisi politik dan realitas ekonomi. Ketika anggaran pendidikan—napas utama kecerdasan bangsa—mulai dipangkas demi sepiring nasi, kita wajib bertanya: Apakah kita sedang membangun generasi emas, atau justru menyuapi generasi yang kehilangan fasilitas belajarnya?

Kritik Tajam: Antara Mubazir, "Camilan" Gizi, dan Inskonstitusional

1. Kanibalisme Anggaran Pendidikan: Sangat ironis jika pemerintah memberi makan fisik anak sekolah dengan cara "merampok" dana riset, kesejahteraan guru, dan perbaikan sekolah yang ambruk. Memberi makan anak di dalam kelas yang atapnya bocor adalah kebijakan yang pincang. Pendidikan adalah hak konstitusi, bukan tumbal proyek katering.

2. Solusi "Makanan Kering" yang Tidak Solutif: Fakta di lapangan menunjukkan bahwa saat Ramadhan, MBG seringkali dipaksakan berjalan hanya dengan membagikan makanan ringan atau makanan kering. Ini adalah pembodohan publik! Anggaran yang dipotong dari sektor pendidikan yang krusial hanya berujung pada pemberian camilan yang nilai gizinya jauh dari standar "Makan Bergizi". Ini bukan perbaikan gizi, ini adalah formalitas penyerapan anggaran yang dipaksakan.

3. Risiko Sosial-Religius yang Mengusik: Memaksakan distribusi makanan di lingkungan sekolah saat mayoritas siswa dan guru sedang berpuasa adalah bentuk ketidakpekaan sosial yang nyata. Selain potensi mubazir jika tidak langsung dimakan, aktivitas ini berisiko melukai kekhusyukan ibadah dan menciptakan tekanan psikologis bagi siswa yang sedang belajar menahan lapar. Pemerintah seolah buta terhadap tradisi dan iman rakyatnya sendiri demi mengejar target administratif.

Solusi Strategis: Jalan Tenah yang Bermartabat

Pemerintah tidak boleh abai. Jika ingin program ini selamat tanpa menghancurkan ekonomi dan tatanan sosial, langkah radikal harus diambil:

- Hentikan Pemotongan Dana Pendidikan: Kembalikan dana pendidikan ke pos asalnya. Cari pendanaan MBG dari efisiensi birokrasi atau pajak spesifik (seperti cukai rokok). Jangan korbankan otak bangsa demi perut sesaat.

- Konversi Menjadi "Paket Gizi Keluarga" (Sembako): Selama Ramadhan, lupakan distribusi makanan kering di sekolah yang tidak mengenyangkan. Konversi anggaran tersebut menjadi paket bahan pangan mentah bermutu tinggi (telur, daging, susu) yang diberikan seminggu sekali kepada orang tua siswa untuk menu Sahur dan Buka Puasa di rumah. Ini jauh lebih berdampak pada gizi keluarga daripada sekadar biskuit atau roti kering di sekolah.

- Skala Prioritas dan Target Presisi: Hentikan sifat universal program ini. Anak dari keluarga mampu tidak perlu disubsidi makannya oleh negara. Fokuskan anggaran hanya pada daerah dengan angka stunting tertinggi dan keluarga prasejahtera.

- Transparansi dan Audit Total: Gunakan aplikasi pelacakan real-time untuk memantau menu dan harga. Jangan biarkan sisa anggaran Ramadhan atau selisih harga makanan kering menjadi celah korupsi baru bagi para oknum katering.

Membangun bangsa tidak bisa dengan cara "gali lubang tutup lubang". Nutrisi memang penting, tapi pendidikan adalah harga mati. Jika di Ramadhan 2026 pemerintah tetap memaksakan bagi-bagi makanan kering di jam puasa, maka MBG bukan lagi program gizi, melainkan simbol arogansi kebijakan yang menabrak nalar dan kesucian ibadah rakyatnya.


Muhammad Nur Salim

Dewan Redaksi Biliksantri

Bidang Riset Pendidikan dan Kebudayaan

Posting Komentar untuk "Ramadhan 2026: MBG Menjadi Ujian Nalar dan Adab Anggaran"